Kamis, 24 Februari 2011

Hadza Min fahdli Rabbi

Dulu aku adalah mentari yang bisa memberikanmu Cahaya kehangatan, tapi kini kau punya cahaya lain. Dulu aku adalah rembulan yang membawamu untuk mengarungi mimpi, tapi sekarang kau punya mimpi lain. Dulu aku adalah embun yang tiap fajar memelukmu dengan kesejukan, tapi sekarang kau disejukan embun lain. Bunga. . . Tak seekor lebah pun, bahkan kupu-kupu, apalagi kumbang, yang mau menghampiri dirimu jika kau layu dan tak mau wangi dan mekar. Bunga. . . Seharusnya kau tau kalau dirimu banyak dinanti-nantikan taman surgawi, cepatlah kau segar kembali BUNGA !!! reguglah air mata langit, peluklah hangatnya cahaya mentari, dan tidurlah berselimutkan embun dengan nyanyian rembulan. Bunga. . . Aku tak peduli kau penuh dengan duri, yang ku mau kau hanya membalas senyum saat mentari merentangkan sayap-sayapnya untuk menghangatkan taman warna-warnimu. Bunga. . . Aku tak peduli kau tumbuh disemak atau di atas gunung sekalipun, karena aku hanya ingin kau terlelap ketika rembulan menjemput malam. Bunga. . . Aku tak peduli hembusan angin menerpa tubuhmu, tapi yang ku inginkan kau terjaga tatkala segarnya tetesan embun memelukmu untuk mengetuk dunia. Bunga. . . Seekor lebah akan menghampirimu katika kau punya sari madu yang diinginkannya… Seekor kupu-kupu tak mungkin melewatkanmu saat kau terlihat indah, menebarkan keharuman, dan terlihat manis… dan Seekor kumbang akan setia menjagamu jika kau terus segar dan mekar dimatanya… Bunga. . . Kenapa setelah cahaya ku redup, tapi kau bisa hidup dengan kepalsuan…? Kenapa saat air mata ku kering, tapi kau bisa segar dalam layu…? Bunga. . . Mungkin aku tak bisa memandang, mencium, bahkan memetikmu lagi, Karena kini kau sudah segar dan mekar dalam tangisan hati ku.

0 komentar: